TERWUJUDNYA MADRASAH BERKUALITAS, BERPRESTASI, DAN BERAKHLAKUL KARIMAH IDAMAN MASYARAKAT
Home / Berita / Dari Batang Padi Menjadi Mahakarya: Yonanda Hana Raih Penghargaan Kategori Tersyar’i

Dari Batang Padi Menjadi Mahakarya: Yonanda Hana Raih Penghargaan Kategori Tersyar’i

Kediri — Berawal dari keresahan sederhana tentang limbah pertanian yang sering terbuang percuma, Yonanda Hana—seorang kreator muda yang gemar mengeksplorasi desain berkonsep keberlanjutan—menciptakan sebuah karya kostum unik berbahan dasar tangkai padi. Karya ini akhirnya mengantarkan dirinya meraih Penghargaan Kategori Tersyar’i dalam ajang Lomba Fashion Show dalam rangka memperingati HUT DWP Ke-26, Hari Ibu dan
HAB Kemenag ke-80 Kab Kediri Tahun 2025 yang digelar pada 17 November 2025.

Terinspirasi dari Dewi Sri, Sang Lambang Kesuburan Nusantara
Dalam proses kreatifnya, Yonanda memilih menghadirkan reinterpretasi modern dari Dewi Sri, sosok mitologis yang dalam budaya Nusantara dipercaya sebagai dewi padi dan kesuburan. Melalui pendekatan modern–interpretatif, ia menggabungkan simbol-simbol tradisional dengan gaya busana syar’i kontemporer.

Kostum yang ia buat memiliki ciri khas berupa vest panjang dari batang padi, dipadukan dengan macramé putih, aksesori handmade, serta mahkota emas berbentuk pancaran sinar yang merepresentasikan berkah dan kemakmuran. Seluruh elemen dirancang dan dirakit sendiri oleh Yonanda, mulai dari pengumpulan bahan, perakitan detail, hingga styling akhir.

Proses Pembuatan: Dari Lahan Padi ke Panggung
Karya ini diselesaikan melalui beberapa tahap:

  1. ⁠Riset Filosofi – Yonanda mempelajari mitologi Dewi Sri, simbol-simbol kesuburan, dan cara memodernkan unsur etnik tanpa menghilangkan nilai sakralnya.
  2. Pengumpulan Bahan – Ia mengumpulkan batang padi kering, memilih tekstur yang tepat, lalu membersihkannya secara manual agar tetap kuat dan estetis.
  3. ⁠⁠Eksperimen Desain – Menggabungkan konsep bohemian, unsur gamis syar’i, dan aksen etnik.
  4. Perakitan Handmade – Seluruh detail seperti macramé, layer padi, hingga headpiece emas dibuat secara mandiri.
  5. ⁠⁠Final Touch dan Fitting – Penyusunan keseluruhan look hingga menjadi satu penampilan yang harmonis.

Proses panjang ini berlangsung selama 5 minggu, dilakukan dengan penuh ketelitian dan dedikasi.

Penampilan Memukau di Hari Acara
Pada hari perlombaan, Yonanda tampil elegan dengan balutan kostum putih yang kontras dengan warna alami padi kering. Headpiece emasnya menjadi perhatian utama, membingkai wajahnya dengan cahaya yang melambangkan harapan dan kemakmuran. Penampilannya mendapatkan apresiasi dari penonton maupun juri karena:
keberanian menggunakan zero-waste concept, keselarasan filosofi dengan tampilan, kreativitas dalam mengolah bahan alam, dan tetap menjaga unsur syar’i tanpa mengurangi estetika.

Raih Penghargaan Kategori Tersyar’i
Dalam pengumuman akhir, Yonanda berhasil meraih Penghargaan Kategori Tersyar’i. Meski bukan juara umum, karyanya dinilai memiliki karakter yang kuat, konsep yang matang, serta pesan budaya yang relevan dengan perkembangan mode berkelanjutan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa limbah padi pun bisa menjadi sesuatu yang indah jika diperlakukan dengan hati. Ini bentuk kecil kontribusi saya untuk keberlanjutan dan pelestarian budaya lokal,” ujar Yonanda usai menerima penghargaan.