Kediri – MTsN 6 Kediri terus memperkuat komitmennya dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia, membangun karakter, serta memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid.
Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui kegiatan Supervisi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang dilaksanakan di MTsN 6 Kediri dengan menghadirkan Mochamad Zaenuri, S.Pd., M.Pd., Pengawas Sekolah Ahli Madya Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan supervisi diawali dengan kedatangan Mochamad Zaenuri, S.Pd., M.Pd. di MTsN 6 Kediri. Setelah disambut oleh pihak madrasah, beliau berkesempatan melihat secara langsung kondisi lingkungan madrasah dan berbagai aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan observasi pembelajaran di kelas. Pengawas melihat secara langsung proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh bapak dan ibu guru, mulai dari interaksi guru dengan murid, suasana pembelajaran, aktivitas murid, hingga bagaimana nilai-nilai KBC dihadirkan dalam proses belajar.
Supervisi kelas tersebut menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana semangat Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya tertulis dalam dokumen, tetapi benar-benar hadir dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Usai supervisi kelas, kegiatan dilanjutkan dengan koordinasi bersama bapak dan ibu guru serta Tim KBC MTsN 6 Kediri.
Madrasah Terus Berbenah dan Meningkatkan Mutu
Kepala MTsN 6 Kediri, Saiful Ali, S.Ag., M.Fil.I., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Mochamad Zaenuri, S.Pd., M.Pd., serta menyampaikan terima kasih atas supervisi dan pendampingan yang diberikan kepada madrasah.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Madrasah menegaskan komitmen MTsN 6 Kediri untuk terus melakukan pembenahan.
Madrasah akan terus belajar, mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan agar implementasi KBC dapat berjalan semakin baik serta memberikan dampak nyata terhadap perkembangan karakter dan kualitas pembelajaran murid.
KBC: Kurikulum yang Memanusiakan Manusia
Pembinaan dan pengarahan selanjutnya disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Sahrul Munir, M.A.
Dalam arahannya, disampaikan bahwa kegiatan monitoring dan supervisi merupakan bagian dari upaya menjaga dan meningkatkan komitmen mutu madrasah.
Kurikulum Berbasis Cinta tidak semata-mata dipahami sebagai perubahan dalam perangkat atau administrasi pembelajaran, tetapi sebagai sebuah pendekatan pendidikan yang memanusiakan manusia.
KBC menempatkan murid sebagai manusia yang memiliki potensi, kebutuhan, perasaan, karakter, dan keunikan masing-masing. Karena itu, proses pendidikan perlu dilakukan secara holistik, tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks tersebut, KBC memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter murid. Pembelajaran diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan terhadap ilmu, lingkungan, diri dan sesama, serta tanah air.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai murid, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan tersebut membentuk sikap, perilaku, kepedulian, dan tanggung jawab mereka.
Pembelajaran Mendalam dengan Kerangka 8–3–3–4
Pengarahan berikutnya disampaikan oleh Mochamad Zaenuri, S.Pd., M.Pd. Dalam paparannya, beliau mengaitkan implementasi KBC dengan kerangka pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang dikembangkan dalam pendidikan Indonesia melalui konsep 8–3–3–4.
Kerangka tersebut memberikan gambaran bahwa pembelajaran tidak berhenti pada proses menyampaikan materi, tetapi diarahkan agar murid mengalami proses belajar yang utuh dan mendalam.
Angka 8 merujuk pada 8 dimensi profil lulusan, yaitu:
Keimanan dan Ketakwaan
Murid memiliki keyakinan, ketakwaan, dan akhlak yang menjadi landasan dalam kehidupan.
Kewargaan
Murid memiliki kesadaran sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa serta mampu menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Penalaran Kritis
Murid mampu berpikir logis, menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara tepat.
Kreativitas
Murid mampu menghasilkan gagasan, karya, dan solusi yang inovatif.
Kolaborasi
Murid mampu bekerja sama, menghargai orang lain, dan mencapai tujuan bersama.
Kemandirian
Murid memiliki kemampuan mengatur diri, bertanggung jawab, dan tidak mudah bergantung kepada orang lain.
Kesehatan
Murid memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan dirinya.
Komunikasi
Murid mampu menyampaikan gagasan, berinteraksi, mendengarkan, dan membangun komunikasi yang efektif.
Kedelapan dimensi tersebut memiliki hubungan yang erat dengan semangat Panca Cinta dalam KBC. Artinya, pendidikan karakter yang dibangun melalui KBC diarahkan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki keimanan, kepedulian, kemampuan berpikir, kreativitas, kemandirian, kesehatan, kemampuan berkolaborasi, dan komunikasi yang baik.
3 Prinsip Pembelajaran
Angka 3 yang pertama dalam kerangka 8–3–3–4 menunjukkan tiga prinsip pembelajaran, yaitu:
Berkesadaran
Murid menyadari tujuan belajar, memahami mengapa mereka belajar, serta terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Bermakna
Pembelajaran memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi dapat dipahami dan digunakan dalam kehidupan.
Menggembirakan
Pembelajaran berlangsung dalam suasana positif, aman, nyaman, menantang, dan menyenangkan sehingga murid memiliki pengalaman belajar yang positif.
Tiga prinsip tersebut sangat selaras dengan semangat KBC. Cinta membuat pembelajaran lebih manusiawi, pembelajaran yang bermakna membuat ilmu lebih dekat dengan kehidupan, sedangkan suasana yang menggembirakan membuat murid tumbuh dengan pengalaman belajar yang positif.
3 Pengalaman Belajar: Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi
Angka 3 yang kedua menunjukkan tiga pengalaman belajar yang perlu dialami murid, yaitu:
Memahami – murid memperoleh dan membangun pemahaman terhadap konsep, pengetahuan, maupun nilai yang dipelajari.
Mengaplikasi – murid menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk menyelesaikan persoalan atau menghadapi situasi nyata.
Merefleksi – murid melihat kembali proses dan pengalaman belajarnya, memahami apa yang telah dipelajari, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana pembelajaran tersebut dapat memberikan makna bagi kehidupannya.
Dengan pola tersebut, pembelajaran bergerak dari “tahu” menuju “mampu melakukan” dan kemudian “mampu mengambil makna”.
4 Kerangka Pembelajaran
Sementara itu, angka 4 merujuk pada empat kerangka yang menopang pembelajaran mendalam, yaitu:
Praktik Pedagogis
Guru memilih pendekatan, metode, strategi, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik murid.
Kemitraan Pembelajaran
Pembelajaran dibangun melalui hubungan yang positif antara guru, murid, orang tua, dan lingkungan sebagai mitra dalam proses pendidikan.
Lingkungan Pembelajaran
Madrasah menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, positif, dan mendukung tumbuh kembang murid.
Pemanfaatan Digital
Teknologi dimanfaatkan secara tepat untuk memperkaya pengalaman belajar, meningkatkan akses terhadap sumber belajar, serta membuat pembelajaran semakin efektif dan relevan.
KBC dan Deep Learning Saling Menguatkan
Dalam implementasinya di MTsN 6 Kediri, KBC dan pembelajaran mendalam bukanlah dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat saling menguatkan.
KBC memberikan nilai dan ruh dalam pendidikan melalui Panca Cinta, sedangkan pembelajaran mendalam memberikan kerangka bagaimana proses belajar tersebut berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan demikian, pembelajaran di madrasah diharapkan tidak hanya menjawab pertanyaan “apa yang harus diketahui murid?”, tetapi juga “untuk apa ilmu tersebut digunakan, bagaimana murid menerapkannya, dan karakter apa yang tumbuh setelah proses pembelajaran berlangsung?”
Supervisi yang dilakukan di MTsN 6 Kediri menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi bersama. Guru tidak hanya melihat pembelajaran dari sisi penyampaian materi, tetapi juga bagaimana menghadirkan pengalaman belajar yang mampu menyentuh pikiran, hati, sikap, dan tindakan murid.
Melalui supervisi dan pendampingan tersebut, MTsN 6 Kediri berkomitmen untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas implementasi KBC. Sebagai madrasah piloting Kurikulum Berbasis Cinta di Kabupaten Kediri, MTsN 6 Kediri berupaya menjadikan cinta bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang hidup dalam pembelajaran, budaya madrasah, interaksi guru dan murid, serta seluruh aktivitas pendidikan.
KBC memberi nilai, Deep Learning memperdalam prosesnya, dan keduanya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan murid yang beriman, berkarakter, berilmu, peduli, mandiri, kreatif, mampu bekerja sama, sehat, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama.
MTSN 6 Kediri MTSN6 Kediri

